Minggu, 29 Juli 2012

SEJARAH KOTA PALEMBANG


By
– April 24, 2012Posted in: sejarah
Pada artikel sebelumnya kita telah membahas legenda Putri Ong Tien dari China yang menyusul kepulangan Sunan Gunung Jati ke Pulau Jawa. Selama perjalanan Putri Ong Tien dari China menuju Pulau Jawa, Kaisar Hong Gie mengutus tiga orang pembesar China menemani perjalan tersebut. Tiga orang tersebut adalah Pai Li Bang ( ada yang menyebutnya Pa Lin Fong), Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien. Pai Li Bang adalah seorang menteri kerajaan China yang menjadi murid Sunan Gunung Jati pada saat beliau berdakwah di negeri China. Dari sinilah sejarah dan asal usul nama kota Palembang dimulai.
Menurut catatan Wikipedia, dalam pelayaran ke Pulau Jawa, rombongan Putri Ong Tien dan Pai Li Bang singgah di Kadipaten Sriwijaya. Begitu mereka datang, para penduduk Kadipaten Sriwijaya menyambutnya dengan meriah. Pai Li Bang sangat heran dengan sambutan tersebut. Pai Li Bang bertanya kepada tetua masyarakat Sriwijaya apakah yang sebenarnya terjadi. Tetua masyarakat tersebut malah balik bertanya siapa diantara anggota rombongan tersebut yang bernama Pai Li Bang.
Setelah mengetahui bahwa yang bertanya tadi adalah orang yang dicari, maka Pai Li Bang bergegas digotong penduduk ke atas tandu. Pai Li Bang dibawa ke istana Kadipaten Sriwijaya. Setelah Pai Li Bang duduk di kursi Adipati, tetua masyarakat tersebut menerangkan bahwa Adipati Ario Damar selalu pemegang kekuasaan Sriwijaya telah meninggal dunia. Penduduk merasa bingung untuk mencari pengganti Ario Damar karena putera Ario Damar, Raden Fatah dan Raden Hasan, sudah menetap di Pulau Jawa.
Pai Li Bang Membangun Kadipaten Sriwijaya
Dalam kebingungan itu, muncul Sunan Gunung Jati di Kadipaten Sriwijaya. Beliau berpesan bahwa sebentar lagi akan datang rombongan murid dari negeri China yang bernama Pai Li Bang. Murid Sunan Gunung Jati itulah yang pantas menjadi pengganti Ario Damar karena Pai Li Bang merupakan seorang menteri negara di China dan berpengalaman membangun negara.
Setelah berpesan demikian, Sunan Gunung Jati meneruskan pelayarannya ke Pulau Jawa. Pai Li Bang selaku murid Sunan Gunung Jati semakin kagum dengan kemampuan gurunya yang mampu mengetahui sebelum peristiwa terjadi. Pai Li Bang tidak menolak keinginan gurunya dan bersedia menjadi Adipati Sriwijaya.
Dalam lampiran buku Perdebatan Syekh Siti Jenar dengan Wali Songo yang ditulis oleh M.B. Rahimsyah AR, diterbitkan Bintang Jaya Press, semasa pemerintahan Pai Li Bang wilayah Sriwijaya maju pesat sebagai kadipaten yang paling makmur dan aman. Berbagai pembangunan dijalankan agar kehidupan masyarakat setempat semakin sejahtera. Untuk menghormati jasa-jasa Pai Li Bang, setelah Pai Li Bang meninggal dunia maka nama Kadipaten Sriwijaya diganti dengan nama Kadipaten Pai Li Bang.
Dalam perkembangannya, karena proses pengucapan lidah orang Sriwijaya maka lama kelamaan nama Kadipaten Pai Li Bang berubah menjadi Kadipaten Palembang. Sampai sekarang, wilayah Sriwijaya disebut sebagai kota Palembang berkat pimpinan dan kepahlawanan Pai Li Bang. Demikian artikel sejarah budaya yang membahas asal usul pemberian nama kota Palembang. Mudah-mudahan informasi ini berguna untuk Anda.
Referensi Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Palembang

Sejarah kota Palembang Part.1 (Bahasa Indonesia)

digg
Zaman Kerajaan Sriwijaya.

Semenjak ditemukannya perasasti kedukan bukit oleh warga setempat dan diserahkan kepada seorang Controleur Belanda yang bernama M.Baternburg ditepi sungai kedukan bukit didekat lereng bukit siguntang pada tanggal 29 November 1920, berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno yang diterjemahkan oleh seorang ahli arkeolog berkebangsaan Francis bernama Prof.. George Coedes, Palembang merupakan kota tertua di Indonesia. Dari hasil penterjemahan prasasti tersebut diperkirakan palembang merupakan pusat kerajaan pada zaman kerajaan Sriwijaya dimana isi dari sebagian prasasti kedukan bukit tersebut menjelaskan bahwa pada tanggal 16 Juni tahun 682 Masehi ( tanggal 5 bulan ashada tahun 604 Saka ) telah dibentuk sebuah Wanua oleh seorang yang bernama Dapunta Hyang di Muka Upang yang diartikan bagian dari kota Palembang. Jadi tanggal tersebut merupakan patokan dari terbentuknya kota Palembang dengan kata lain Hari jadi kota Palembang. Dan bila ingin melihat naskah asli tentang kerajaan Sriwijaya silahkan lihat disini
Isi dari Prasasti Kedukan Bukit :
o1. svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śu
klapakşa vulan vaiśākha d,,02. dapunta hiya<m(> nāyik di
03. sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
vulan jyeşţha d,04. dapunta hiya<m(> maŕlapas dari minānga
tāmvan mamāva yam(05. vala dualakşa dangan ko-
06. duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
tlurātus sapulu dua vañakña dātam(07. di mata jap
08. sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula….
laghu mudita dātam(09. marvuat vanua …..
10. śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa .....
  1.  
(Catatan: /v/ dalam bahasa Melayu modern menjadi /b/).

Terjemahan :

01. Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
02. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyaŋ naik di
03. perahu "mengambil siddhayātra". Pada hari ke tujuh paro-terang
04. bulan Jyestha Dapunta Hiyang bertolak dari Minanga
05. sambil membawa 20.000 tentera dengan perbekalan
06. sebanyak dua ratus (peti) berjalan dengan perahu dan yang berjalan kaki sebanyak seribu
07. tiga ratus dua belas datang di Mukha Upaŋ
08. dengan sukacita. Pada hari ke lima paro-terang bulan .........
09. dengan cepat dan penuh kegembiraan datang membuat wanua (....)
10. Śrīwijaya menang, perjalanan berhasil dan menjadi makmur senantiasa
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Kedukan_Bukit

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.
Berbicara mengenai asal usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga sekitar abad ke-12 di bawah Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta Salendra dengan Bala Putra Dewa sebagai Raja Pertama. Pada abad ke-17 kota Palembang menjadi ibukota Kesultanan Palembang Darussalam yang diproklamirkan oleh Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (atau lebih dikenal Kimas Hindi/Kimas Cinde) sebagai sultan pertama (1643-1651), terlepas dari pengaruh kerajaan Mataram (Jawa). Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama. Kemudian kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16 Februari 1942. Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI. Berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A. Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 948, Palembang dijadikan Kota Besar. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang.

Sumber : http://infokito.wordpress.com/2007/07/15/mengenal-kota-palembang/
Melihat Sumatera Selatan dari Potret Sejarahnya
OPINI | 14 November 2011 | 00:45 Dibaca: 512   Komentar: 2   1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Saya selaku penulis hanya menuliskan beberapa pandangan saya terhadap berbagai, ruang publik yang menyita perhatiaan sebagai seorang jurnalis muda tidak banyak yang dapat saya argumentasikan disini tapi kiranya dapat sedikit memberi wawasan terhadap persepsi orang di kota yang cahaya kilauanya tak pernah surut dari perhatian khlayak ramai, Gelora Sriwijaya Sumatera Selatan.
Semuanya bermula dari sini kota dimana saya dilahirkan kota yang dijuluki Venice of the East (bahasa Indonesia: “Venice dari Timur”)[i]. kota yang kini menjadi pusat ribuan mata se Asia Tenggara tertuju, karena dikota inilah pembukaan ceremony seagames ajang perhelatan akbar olahraga se Asia tenggara di gelar dikota tua tempat kerajaan sriwijaya bersemayam dengan kejayaan kerajaan maritim yang takkan terlupakan masa lalunya, kota yang menyimpan banyak cerita tentang kejayaan serta kekuasaan dimasa lalunya itu baik dimasa hindu, budha, serta islam di pelosok sumatera selatan hingga ke masa dimana penjajahan kolonial belanda,
Sejarahnya, Pada tahun 1896 M, sarjana Jepang Takakusu menerjemahkan karya I-tsing, Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch‘uan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Record of the Budhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago. Namun, dalam buku tersebut tidak terdapat nama Sriwijaya, yang ada hanya Shih-li-fo-shih. Dari terjemahan prasasti Kota Kapur yang memuat nama Sriwijaya dan karya I-Tsing yang memuat nama Shih-li-fo-shih, Coedes kemudian menetapkan bahwa, Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan[ii].
Jelas bangga sebagai pemuda sumatera selatan khususnya, dimana buminya kupijak dan langitnya menjadi atap tempatku berlindung ini, menyimpan sebuah kekayaan khasanah lokal dan sejarah yang seharusnya ,menjadi warisan budaya. maka dari itu aku mencoba merekontruksi kembali sesuatu yang hilang dari ingatan kota ku, asal mula kata palembang mungkin tidak banyak orang sumatera selatan sendiri tahu akan arti atau asal mula kata palembang, tersebut
meskipun shakes phare pernah mengatakan apalah arti sebuah nama tapi sebagai tempat kelahiran serta penerus bangsa sudah seyogyanya kita tahu, arti asal usul kota kita
zaman dahulu Pulau sumatera di kenal sebagai Pulau emas atau dalam Bahasa Sanskerta disebut Swarnadwipa, mungkin inilah yang mendasari penamaaan sebuah hotel di sumatera selatan , sebagai hotel swarnadwipa berlandaskan nilai historisnya orang sumatera percaya bahwasanya daerah yang subur ini merupakan tanahnya emas berada,
  • minangkabau menamakan pulau sumatera dengan sebutan Pulau ameh yang berarti Pulau emas, hal ini di dasari dari cerita rakyat di minangkabau. dijumpai dalam cerita Kaba Cindua Mato
  • dalam cerita rakyat lampung pulau sumatera disebut sebagai tanoh mas yang artinya tanah emas
  • seorang bikhsu cina yang sedang melakukan perjalanan keindia yang bernama I-Tsing menyebutkan Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”
  • dalam Naskah buddha yang termasuk dari salah satu naskah buddha yang paling tua yaitu kitab jataka menceritakan pelaut india menyeberangi teluk benggala ke suarnabhumi/suarnadwipa
  • Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa
  • Para musafir Arab menyebut Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa
  • Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib
  • Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’
  • pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Nusantara, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan dan kapur barus
Menarik sekali bagaimana pada zaman dahulu dunia mengenal Sumatera sebagai “Pulau emas” lalu kembali ke pokok pembahasan kita kali ini yaitu asal nama kota palembang yang berasal dari kata melimbang atau mendulang emas. jadi pada masa sebelum Palembang memiliki sebuah nama. Melimbang emas adalah mata pencaharian sebagian besar masyarakat Palembang. dan seperti yang kita ketahui Pa dalam Bahasa melayu memiliki arti tempat maka lahirlah kata palimbang yang artinya tempat mendulang emas.
Palembang Berasal dari Kata Pai lian Bang
Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai sinshe dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama Pai Lian Bang. Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama Ong Tien. Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.
Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama Ario Damar atau Ario Abdillah (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah.Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : ”…seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati…”.
Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar dlam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumatera termasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di sumsel dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi PALEMBANG yang diambil dari nama PAI LIAN BANG
Palembang Berasal dari kata Pa dan Lembang
yang ketiga asal nama kota palembang bersalah dari kata “pa” dan “lembang” secara pribadi saya lebih menyukai teori ini terlepas dari benar atau salah nya teori ini dan bukan tanpa alasan saya lebih condong menyukai teori ketiga ini, saya akan coba paparkan alasan mengapa saya lebih menyukai teori in, hal pertama yang ada di pikiran saya, kapan nama palembang ini terlahir, semasa Kerajaan Sriwijaya berjaya kah, atau setelah Kerajaan Sriwijaya Runtuh atau bahkan sebelum Kerajaan Sriwijaya ada, nama Palembang ini sudah lebih dulu ada. ini merupakan hal yang sangat sulit dikarnakan tidak adanya peninggalan peninggalan zaman dahulu yang mengarah ke arah ini, dari pertanyaan kapan ini lah, saya menyusuri jejak sejarah saat dimana saja nama palembang disebutkan, akhirnya saya menemukan sebuah kronik Chu-fan-chi yang bersumber dari cina karya Chau Ju-kua pada tahun 1225 berita dari cina inilah yang paling dahulu menyebutkan kata palembang
Pa-lin-fong (Palembang), adalah salah satu bawahan dari kerajaan San-fo-tsi
seperti yang sudah kita ketahui bersama san-fo-tsi adalah nama lain dari Sriwijaya. jadi Palembang adalah bawahan dari Sriwijaya sejak tahun 1225. ini pun tidak memuaskan rasa penasaran saya akan kapan kata Palembang ini ada. pertanyaan akan kapan ini pun terpaksa saya hentikan sampai disini.
Lalu saya melirik sebuah teori yang mana menyebutkan bahwa palembang berasal dari kata melimbang emas, yang memang benar bahwa negri sriwijaya dahulu nya kaya akan emas. jikalau hal ini benar lalu kenapa hanya palembang yang dijadikan nama daerah sedangkan sudah kita ketahui bersama pulau sumatera adalah swarnadwipa bukan hanya daerah palembang saja. seperti yang telah saya sebutkan diatas, minagkabau, lampung juga adalah daerah yang dikenal dunia zaman dahulu sebagai pulau emas. hal ini lah yang membuat saya mengesampingkan teori nama palembang berasal dari kata melimbang emas.
lalu ada pula sebuah versi cerita yang menyebutkan kalau palembang berasal dari nama sebuah adapita cina yang sempat memerintah setelah wafatnya adipati ario damar yaitu pai lian bang lalu pai lian bang wafat kemudian diabadikan nama nya menjadi nama daerah yang di pimpinnya kamudian akhirnya bernama palembang. apakah ini juga benar, kita sama sama tidak mengetahuinya dengan jelas. saya kembali teringat akan sebuah prasasti yang teramat penting bagi sejarah Kerajaan Sriwijaya, yaitu Prasasti kedukan bukit.
tanggal 23 April 683 dapunta hiyang naik ke perahu mengambil siddhayatra. 19 Mei 683 Dapunta Hiyang berlepas dari minanga membawa 20.000 bala tentara dengan perbekalan 200 peti di perahunya. Rombongan pun tiba di Mukha Upang dengan suka cita. 17 Juni 683 Dapunta Hyang datang membuat wanua
wanua disini diartikan oleh sebagian para sejarawan adalah sebagai wilayah permukiman, yang kemungkinan besar itu adalah permukiman cikal bakal nya masyarakat palembang pada saat ini, lalu apakah permukiman yang dibuat oleh dapunta Hyang pada saat itu memang belum juga memiliki nama.
sekarang kita lihat keadaan daerah palembang pada masa dahulu, palembang pada masa dahulu adalah merupakan sebuah wilayah berawa atau tanah yang tergenang air, ini dibuktikan pada data statistik pada tahun 1990, bahwa masih terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang. itu di tahun 1990 apalagi pada zaman dahulu. dari sinilah saya secara pribadi menyukai teori bahwasaya Palembang itu berasal dari kata “pa” dan “lembang” yang dalam bahasa melayu artinya “daerah rembasan air” kebiasaan dari kita jikalau belum mengetahui nama suatu daerah hal pertama yang akan kita sebutkan adalah bentuk atau ciri ciri lokasi tersebut yang akan kita sebutkan. saya beri sebuah contoh misalkan kita hendak menuju ke suatu tempat lalu dalam perjalanan kita lupa jalan mana yang seharusnya kita lalui, hingga pada akhirnya kita tersesat, merasa bingung ada dimana kita lalu menelpon teman kita yang kebetulan tinggal di daerah dekat situ, teman kita bertanya “kamu sekarang dimana” lalu kita menjawab “nga tahu dimana pokok nya banyak pohon besar di sekitar saya dan daerah nya tergenang air” hal ini membuktikan bahwa manusia yang belum mengenal suatu daerah kemungkinan besar akan menyebutkan ciri ciri daerah yang di lihatnya.
Asal nama Palembang yang berasal dari kata “pa” dan “lembang” ini juga di lihat dalam kamusnya ‘A Malay English Dictionary’ yang dikeluarkan di Singapore tahun 1903 menyebutkan bahwa lembang adalah tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air. Menurut Kamus Dewan (karya Dr. T.Iskandar, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1986), lembang berarti lembah, tanah lekuk, tanah yang rendah. Untuk arti lain dari lembang adalah tidak tersusun rapi, terserak-serak. dan dalam bahasa Melayu, lembang berarti air yang merembes atau rembesan air. Arti Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.

Jelaslah sudah bagi saya, bahwa Palembang berasal dari kata Pa dan Lembang yang dinamai sesuai dengan keadaan daerah tersebut pada zaman dahulu[iii]
Berdasarkan pertimbangan latar belakang sejarah serta banyaknya ragam peninggalan budaya masa lampau di Palembang, pengelolaan sumber daya budaya, dan daerah kunjungan wisata (khususnya wisata sejarah dan wisata ziarah), saya mencoba mengali,menghidupkan kembali rangkaian cerita yang terpendam tentang kota palembang melalui untaian kata yang sebenarnya tidak hanya cukup ditulis, perparagraf atau per baris kalimat, karena banyaknya kisah yang harus saya angkat mengenai ruang pubik dikota palembang yang memiliki nilai sejarah, tak kenal maka tak sayang terlepas anda berada di kota mana,
Bahkan ada pernyataan ekstrim yang mengatakan bahwasanya : “Seharusnya Sriwijaya telah Menjadi Daerah Istimewa, seperti Yogyakarta dan aceh ? mungkin penulis tidak dapat berkata banyak dalam ranah ini, setidaknya penulis telah mencoba sedikit mengugah pemuda se sumatera akan sadar tentang kesadaran akan kotanya masing masing
Heritage of Mosque, Masjid Masjid Tua
kota palembang dikenal pula sebagaai kota dengan masjid masjid tuanya yang bersejarah heritage of mosque ditinjau dari beberapa aspek, ruang publik tidak hanya sebatas taman kota tetapi saya nilai ada beberapa tempat yang angkat di artikel ini, yang pertama masjid terbesar dan bersejarah di Palembang, terlepas dari kota palembang yang dahulunya menyimpan kekuatan maritim terbesar dimasa kerajaan Sriwijaya, yang hingga detik ini pusat kerajaan sriwijaya belum pasti keberadaanya,
ada beberapa sumber yang menyatakan keberadaan kota palembang sebagai pusat kerajaan sriwijaya salah satunya melalui Prasasti telaga batu yang akan kita bahas juga didalam artikel ini, yang mendukung keberadaan Palembang sebagai pusat kerajaan adalah prasasti Telaga Batu. Prasasti ini berbentuk batu lempeng mendekati segi lima, di atasnya ada tujuh kepala ular kobra, dengan sebentuk mangkuk kecil dengan cerat (mulut kecil tempat keluar air) di bawahnya. Menurut para arkeolog, prasasti ini digunakan untuk pelaksanaan upacara sumpah kesetiaan dan kepatuhan para calon pejabat. Dalam prosesi itu, pejabat yang disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui cerat tersebut. Sebagai sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di pusat kerajaan. Karena ditemukan di sekitar Palembang pada tahun 1918 M, maka diduga kuat Palembang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya.
Masjid Agung Palembang, di masa lalu masjid ini dulunya dikenal dengan nama Masjid Sultan yang lokasi bangunanya terletak di “Pulau” yang dikelilingi sungai, sebelah selatan sungai musi, sebelah barat sungai sekanak,sebelah timur sungai tengkuruk, dan sebelah utara sungai kapuran, ada mitos mengatakan bahwasanya dulunya seputar masjid agung itu sungai dan pada zaman kolonial belanda sungai tersebut ditimbun hinga akhirnya permukaan dasar sungai sungai pun, tertutup oleh timbunan tanah yang akhirnya, menjadi suatu dataran yang kini jalan tersebut menjadi salah satu jalan protokol di palembang, peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh Sultan Mahmud Badaruddin 1,
Puncak masjid agung berbentuk atap mustaka / kepala. Bentuk mustaka yang terjurai ini melengkung ke atas keempat ujungnya menyerupai bentuk atap pada bangunan cina. Menara pertama dibangun pada bagian kiri masjid arah selatan ( jalan merdeka) pada tahun 1753 dengan ukuran tinggi 30 meter dan garis tengah 3 meter, pada tahun 1897 dibawah kepemimpinan pangeran penghulu nata agama karta mangala mustofa ibnu raden kamludin, masjid telah diperluas. Pada tahun 1930, perluasan masjid juga dilakukan dan dipimpin oleh hopa penghulu KI Agus Nang Toyib dkk. Pada tanggal 2 januari 1970, menara kedua dibangun yang berbentuk persegi 12 dan dengan ketinggian 45 meter. Bangunan tersebut dibiayai oleh pertamina dan diresmikan pada tanggal 1 februari 1971,
Masjid Agung Masa kini, bangunan utama masjid agung yang dibangun oleh masa Mahmud Badaruddin 1 masih tetap berdiri sebagaimana aslinya, sejak tahun 2000 masjid ini direnovasi dan selesai pada tanggal 16 Juni yang diresmikan oleh Presiden RI HJ Megawati Soekarno Putri, pada saat ini kita sudah dapat melihat kemegahan Masjid agung yang seluruhnya dibatasi jalan, dihalaman masjid dapat kita lihat taman yang diantaranya ditanami beberapa buah pohon kurma, serta jam matahari buatan belanda.
Masjid Merogan & Masjid lawang Kidul
Kedua Masjid ini dibangun dalam waktu hampir bersamaan pada tahun 1310 H oleh Kyai Merogan (MGS.H.Abdul Hamid bin Mgs, Mahmud) denagn menggunakan biaya sendiri. Sebagai seorang ulama yang memiliki pandangan kedepan beliau mendirikan rumah Allah dengan membuat pernyataan tertulis disebut “Najar Mujai Lillahi Ta’ala” naskah tersebut teranggal 6 syawal 1310.
Masjid ki merogan berada di tepian Sungai Ogan kecamatan kertapati sedangkan Masjid lawang kidul berada di tepi sungai Musi daerah seberang ilir kelurahan 5 ilir. Kedua bentuk masjid ini serupa sekalipun pendiri kedua masjid itu wafat tetapi sampai dengan saat ini tetap ramai dikunjungi oleh orang karena makam beliau di lokasi Masjid ki Merogan dianggap keramat dan ada beberapa kisah menarik pada saat beliau masih hidup.
Kisah Anak Yatim
Pada suatu hari kala itu beliau masih berada di mekkah menuntut ilmu berkatalah bahwa dia akan kembali ke Indonesia untuk mengurus anak yatim, Anak yatim yang dimaksud adalah Masjid Merogan dan Masjid lawang Kidul
Kisah tentang Ikan
Seorang pedagang ikan dari Oki membawa ikan untuk dijual di pasar ikan di palembang. Mendekati kota palembang, si pedagang tiba-tiba melihat ikanya dalam keadaan mati dan dia akan mengalami kerugian yang cukup besar, tiba tiba ia teringat akan kemasyuran KI Merogan untuk meminta nasehat, setelah tiba belum sempat, si pedagang berkata, Sang Kyai menegur, kisanak ikan-ikan yang berada di perahumu tidaklah mati, insya Allah ikanmu hidup, juaalah ke pasar dan hiduplah serta peliharalah keluargamu baik baik. Benar saja tiba di perahu dilihatnya ikan yang dibawanya dalam keadaan hidup, cerita lain tentang ikan dari seorang penduduk yang ingin membuktikan kekramatan KI Merogan dengan melepas se ekor ikan besar sambil berucap “ hai ikan pergilah engkau menemui ki merogan di masjid merogan”, sebelum sempat mengutarakan maksudnya Sang kyai menyapa lebih dulu dan berkata kirimanya sudah diterima
Zikir Merogan
Beliau mengajarkan zikir dengan cara unik yaitu bila beliau mengajar ke masjid lawang kidul atau sebaliknya mengunakan perahu sambil berkayuh inilah kyai mengajak murid muridnya bersama sama mengucapkan zikir berulang ulang dan maklumlah penduduk sekitarnya
Masjid Al Mahmudiyah, Masjid Suro
Terletak di kelurahan 30 ilir Kecamatan Ilir Barat II wilayah Suro, oleh karena itu masjid tersebut dinamakan masyarakat disekitar lingkungan itu Masjid Suro yang sekarang , sejak tahun 2001 atas kesepakatan pengurus berganti nama masjid Al mahmudiyah, Masjid ini dibangun oleh Alm. Ki H Abdurrahman Dalamat pada tahun 1310 H (1898 M), Tiang penyangga masjid ini dibuat dari kayu bulat tinggi dan lebar yang sampai saat ini masih tetap kokoh.
Masjid yang dibangun dengan gotong royong karena tidak ada biaya konon menurut cerita Ki. H. Abdurrahman Dalamat sholat tahajud dan berdoa meminta rizki dan pada kenyataanya setelah selesai berdoa telah ada uang dibawah sejadah, uang tersebut dipergunakan beliau untuk pembangunan masjid ini,
Kisah semasa kecil ayahku di Masjid Suro,
Sepenggal masa kecil ayahku, semenjak kecil ia dibesarkan di daerah suro ini ia teringat betul akan bayang bayang dirinya yang semenjak kecil, berani ke atas menara yang bagi anak se usianya terbilang tinggi berdiri di ketinggian tersebut untuk menyuarakan pangilan beribadah Adzan yang hingga saat ini ia menginggatnya,
Pemprov Sumsel dari tahun ke tahun terus berbenah dari hanya sebuah kota yang tidak dikenal hingga jadi pembicaraan disetiap kota bahkan mancanegara, sebagai kota yang memiliki aset wisata serta kekayaan sejarah yang tak ternilai harganya, historia vitae magistra tetapi sayang meskipun dikota metropolitan ini terus mengalami kemajuan dibidang infrastruktur tetapi penulis masih menjumpai suatu tempat kurang terawat serta terjaga kelestarianya banyak nilai nilai sejarah, dari suatu tempat hilang tergerus arus globalisasi, baik itu dari kesadaran masyarakat atau kesadaran individunya , contohnya terdapat pada ruang publik yang menyimpan sejarah tekstil di sumatera ini, salah satunya museum tekstil yang akan menjadi sebuah hotel , museum tekstil sendiri seharusnya cagar budaya yang bernilai sejarah, budaya dan ekologis, Pemprov Sumsel sampai saat ini belum mengusulkan Museum Tekstil sebagai benda cagar budaya sesuai amanah UU No10/2011 tentang Cagar Budaya, masyarakatpun se akan lupa hal ini ,pemerintah yang yang seharusnya ikut melindungi, warisan bangsa bagi anak cucu kita, sibuk dibalik suksesnya hingar bingar kemeriahan Sea games serta kilauan cahaya kembang api yang memerahkan langit Palembang dimalam Ceremony Seagames2011
yang jadi pertanyaan penulis apakah suatu tempat akan tetap bernilai historis jika pengunaanya telah dirubah? sejarahnya Museum Tekstil itu sendiri atau gedung Eks BP7 itu telah dibangun pada masa kolonial Belanda untuk kantor gubernur Pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Sumatera Bagian  Selatan. Dalam perjalanan waktu, gedung ini dimanfaatkan pula menjadi berbagai kantor. Pada 1961 menjadi kantor Inspektorat Kehakiman, kemudian sebagai rumah dinas KejaksaanTinggi Sumsel, rumah ketua DPRD Sumsel, kantor Pembantu Gubernur,  kantor Badan Kepegawaian Daerah, kantor BP7, dan terakhir sebagai Museum Tekstil Palembang.
Jadi “Tidak beralasan jika di kawasan Museum Tekstil dibangun hotel, mengingat bahwasanya kekhasan tenunan palembang tersimpan didalamnya, contohnya saja songket telah banyak menarik mata dunia, bahwasanya aset negara adalah warisan budaya dan harus dipertahankan siapa yang tidak tahu songket palembang?, ironis, memikirkan pelestarian budaya yang terlupakan.
penulis hanya ingin membuka mindset bahwasanya jika benar peruntukan hotel tersebut ialah agar dapat terus menjaga kelestarianya apakah keuntungan dari, hotel tersebut akan masuk ke kas negara atau daerah,? jika tidak ada sebaiknya lebih diperuntukan bagi kepentingan umum, agar generasi kita kedepan tahu bahwasanya kota ini memiliki suatu museum tenun atau tekstil di daerahnya,
hingga saat ini penulis belum tahu alasan jelas, yang mendasari pembangunan hotel di lahan museum tersebut. Semoga pemerintah sadar akan nilai arti nilai sejarah dari suatu tempat, mekipun itu ruang publik umum, seperti kata bung karno JAS MERAH “Jangan sekali kali melupakan sejarah”. Semoga sekedar tulisan kecilku dapat menyadarkan serta menginspirasi teman-teman baik yang sebagai jurnalis maupun masyarakat umum.
Selain itu yang menjadi ciri khas kotaku ya kulinernya yang jadi bahan candaan jika akan menyantap kuliner satu ini, yang dikenal dipelosok nusantara.” orang palembang aja bisa makan kapal selam” , hee… pempek kapal selam sebutan untuk pempek besar yang isinya telur didalamnya, mungkin dalam pembuatanya direbus jadi orang-orang menyebutnya sebagai pempek kapal selam.
Taman kota ku, dari saat ku kecil hingga beranjak dewasa
Tempat yang kulintasi dulu kini telah berubah , dari kecil aku telah terbiasa untuk melintasi kambang iwak yang dulunya tidak seindah ini, yaa dulu aku sering kerumah saudari ayahku, penulis memangilnya dengan sebutan mamak hang tuah di jln hang tuah rumah yang hingga saat ini arsiteturnya masih peninggalan belanda, saat melintas di tempat itu, kini dan sekarang pengunaan taman tersebut tidak jauh berbeda tetapi kini raut wajahnya jauh lebih berbeda, sampai saat sekarang penulis belum tahu arti secara harfiah kambang iwak, tetapi secara etimologisnya penulis tahu bahwasanya kambang itu sama dengan kolam dan iwak itu maksudnya ikan, hingga di sebutlah kambang iwak, pada awalnya pembangunan kambang iwak ini di bendung atau di bangun oleh pemerintahan kolonial belanda untuk membuat suatu tempat persediaan air hingga akhirnya pengunaan kolam tersebut dialihfungsikan sebagai taman kota seperti saat ini, perubahan nama kambang iwak menjadi KIF kambang iwak family park
Pepohonan besar berusia tua membuat suasana sejuk semakin terasa. Apalagi, adanya kawasan Kambang Iwak yang menjadi tempat orang berolahraga dan anak-anak muda kongkow-kongkow di malam hari. Ada beberapa tempat makan, seperti kafe dan restoran, yang menyajikan makanan khas Palembang ataupun makanan yang tak asing lagi di lidah orang Palembang.
Mengamati bangunan-bangunan di kawasan ini akan tertegunlah mata kepada betapa indahnya bangunan peninggalan Belanda tersebut. Terutama, halamannya yang luas dengan hamparan rerumputan hijau dan taman nan indah semakin menguatkan kawasan ini sebagai kawasan publik yang sayang dilewatkan bila berkunjung ke Palembang.
Menelusuri jalan merdeka,
Kantor Pos Pusat Palembang berbentuk sama dengan kantor pos lain di Indonesia. Bangunan ini sudah cukup berumur. Berjalan ke arah Sungai Musi, akan terlihat Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang super besar. Perpaduan arsitektur Melayu dan kolonial Belanda. Ada benteng Kuto Besak dengan dinding sangat kokoh bercat putih. Halamannya tentu sangat luas.
Selain itu, ada lagi bangunan-bangunan perkantoran yang juga bergaya arsitektur kolonial. Ciri-cirinya sama. Dinding kokoh, pintu dan jendela besar-besar, dengan atap yang berbentuk limas.
hal inilah yang membuat ketertarikan ku dibidang jurnalistik sejak setahun ku tekuni di lembaga pers mahasiswa media sriwijaya bertahan, penulis ber inisiatif membangkitakan jiwa pemuda lainya tidak hanya sebagai sebagai aktivis pers mahasiswa yang berbeda dengan aktivis mahasiswa biasa karena jika sebagai aktivis mahasiswa melakukan perubahan dengan berbagai aksi protesnya, maka aktivis pers mahasiswa melakukan perubahan lewat tulisannya, dari apa yang diangkatnya. Sudah barang tentu tulisan yang dihasilkan harus memberikan kritik solutif, dengan rentetan solusi, jadi tak sebatas hujatan semata.
dalam retropeksi, saya bersyukur bisa mendokumentasikanya didalam untaian kata yang bernilai sejarah, setidaknya inilah salah usaha anak daerah dalam menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah yang kini kian memudar di mata anak bangsa!,
maka dari itu izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada sejumlah nama yang mendorong dan membantu saya menulis artikel ini, yang memancing saya untuk berfikir tentang kepenulisan public space (ruang publik) dikotaku, terutama ONOF Indonesia sesuai taglinenya Ideas Meet Oppurtunities, serta beberapa kerabat dekat saya rahman arief, serta kusuma dyah tantri yang setia menemani saya ,juga tiada hentinya memotivasi,untuk mengali nilai-nilai sejarah yang terdapat pada tempat yang kami singgahi,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar